test

  • Home
  • Contact

Twitter

Kamis, 27 Oktober 2011

Makalah Tentang Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian


A. Pendahuluan

Manusia berbeda dari binatang.Perilaku pada binatang dikendalikan oleh instink/naluri yang merupakan bawaan sejak awal kehidupannya. Binatang tidak menentukan apa yang harus dimakannya, karena hal itu sudah diatur oleh naluri. Binatang dapat hidup dan melakukan hubungan berdasarkan nalurinya


Manusia merupakan mahluk tidak berdaya kalau hanya mengandalkan nalurinya.Naluri manusia tidak selengkap dan sekuat pada binatang.Untuk mengisi kekosongan dalam kehidupannya manusia mengembangkan kebudayaan. Manusia harus memutuskan sendiri apa yang akan dimakan dan juga kebiasaan-kebiasaan lain yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaannya. Manusia mengembangkan kebiasaan tentang apa yang dimakan, sehingga terdapat perbedaan makanan pokok di antara kelompok/masyarakat. Demikian juga dalam hal hubungan antara laki-laki dengan perempuan, kebiasaan yang berkembang dalam setiap kelompok menghasilkan bermacam-macam sistem pernikahan dan kekerabatan yang berbeda satu dengan lainnya.


Dengan kata lain, kebiasaan-kebiasaan pada manusia/masyarakat diperoleh melalui proses belajar, yang disebut sosialisasi.


B. Definisi Sosialisasi


Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

Berikut ini adalah definisi sosialisasi dari beberapa sosiolog.

Peter L. Berger:
Sosialisasi adalah proses dalam mana seorang anak belajar menjadi seseorang yang
berpartisipasi dalam masyarakat. Yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peran-peran,
sehingga teori sosialisasi adalah teori mengenai peran (role theory).

Robert M.Z. Lawang:
Sosialisasi adalah proses mempelajari nilai, norma, peran dan persyaratan lainnya yang
diperlukan untuk memungkinkan seseorang dapat berpartisipasi secara efektif dalam
kehidupan sosial.

Horton dan Hunt:
Suatu proses yang terjadi ketika seorang individu menghayati nilai-nilai dan norma-norma
kelompok di mana ia hidup sehingga terbentuklah kepribadiannya.


Dalam proses sosialisasi terjadi paling tidak tiga proses, yaitu:
(1) belajar nilai dan norma(sosialisasi).
(2) menjadikan nilai dan norma yang dipelajari tersebut sebagai milik diri  (internalisasi).
(3) membiasakan tindakan dan perilaku sesuai dengan nilai dan normayang telah menjadi miliknya (enkulturasi).



C. Fungsi Sosialisasi


1. Bagi individu: agar dapat hidup secara wajar dalam kelompo/masyarakatnya, sehingga
tidak aneh dan diterima oleh warga masyarakat lain serta dapat berpartisipasi aktif
sebagai anggota masyarakat

2. Bagi masyarakat: menciptakan keteraturan sosial melalui pemungsian sosialisasi sebagai
sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian sosial.


D. Jenis Sosialisasi


Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.

Sosialisasi primer

Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah.Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya.Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.

Sosialisasi sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.

E. Tipe Sosialisasi


Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda.contoh, standar 'apakah seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah.Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu.Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada.Ada dua tipe sosialisasi.Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
  • Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
  • Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.



F. Tahap-tahap Sosialisasi


Menurut George Herbert Mead

George Herbert Mead menjelaskan bahwa diri manusia berkembang secara bertahap
melalui interaksinya dengan anggota masyarfakat yang lain, mulai dari play stage, game
stage, dan generalized other.

Tahap 1: Preparatory

• Dalam tahap ini individu meniru perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi
belum mampu memberi makna apapun pada tindakan yang ditiru.
• Merupakan peniruan murni.

Tahap 2: Play Stage

Play Stage, atau tahap permainan, anak mulai memberi makna terhadap perilaku yang ditiru.
Mulai mengenal bahasa. Mulai mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi diri) sebagaimana
definisi yang diberikan oleh significant other.
Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang dalam proses
sosialisasi. Bagi anak-anak dalam tahap play stage, orangtua merupakan significant other.
Bahkan, anak-anak tidak dapat memilih siapa significant other-nya!
Ketika ada yang menyapa: “Hi, Agus”, maka anak mengerti: “Oh – aku Agus”. “Hi, Pintar”.
“Oh, aku pintar”.“Bodoh banget kamu”.“Oh, aku bodoh banget”, dan setertusnya. Definisi
diri pada tahap ini sebagaimana yang diberikan oleh significant other.

Tahap 3 Game Stage

• Tahap ini berbeda dari tahap permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan
tindakan yang disadari.
• Tidak hanya mengetahui peran yang dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan
siapa ia berinteraksi.
• Bisakah Anda membedakan antara “bermain bola” dengan “pertandingan sepakbola”?
Bermain bola dapat dilakukan oleh anak-anak pada yang telah mengalami sosialisasi
tahapplay stage, tetapi bertanding sepakbola baru dapat dilakukan oleh anak-anak yang
telah mengalami sosialisasi pada tahap game stage. Mengapa demikian? Karena dalam
pertandingan sepakbola ada prosedur dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahapgame stage


 

Menurut Charles H. Cooley

Charles H. Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia.

3. Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.



G. Agen-agen Sosialisasi

Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi.Dapat juga disebutsebagai media sosialisasi.

Jacobs dan Fuller (1973), mengidentifikasi empat agen utama sosialisasi, yaitu: (1)keluarga, (2) kelompok pertemanan, (3) lembaga pendidikan, dan (4) media massa. Para ahlisosiologi menambahkan juga peran dan pengaruh dari lingkungan kerja.


1. Keluarga sebagai agen/media sosialisasi

Keluarga merupakan satuan sosial yang didasarkan pada hubungan darah (genealogis),dapat berupa keluarga inti (ayah, ibu, dan atau tanpa anak-anak baik yang dilahirkanmaupun diadopsi), dan keluarga luas, yaitu keluarga yang terdiri atas lebih dari satukeluarga inti yang mempunyai hubungan darah baik secara hirarkhi maupun horizontal.

Nilai dan norma yang disosialisasikan di keluarga adalah nilai norma dasar yangdiperlukan oleh seseorang agar nanti dapat berinteraksi dengan orang-orang dalammasyarakat yang lebih luas.

Pihak yang terlibat (significant other):
Pada keluarga inti: ayah, ibu saudara kandung, pada keluarga luas: nenek, kakek, paman,bibi, pada masyarakat menengah perkotaan sejalan dengan meningkatnya partisipasi kerjaperempuan: baby sitter, pembantu rumah tangga, petugas pada penitipan anak, guru padaplay group, dll.

2. Kelompok pertemanan sebagai agen/media sosialisasi

Dalam lingkungan teman sepermainan lebih banyak sosialisasi yang berlangsungequaliter, seseorang belajar bersikap dan berperilaku terhadap orang-orang yang setarakedudukannya, baik tingkat umur maupun pengalaman hidupnya.

Melalui lingkungan teman sepermainan seseorang mempelajari nilai-nilai dan norma-norma dan interaksinya dengan orang-orang lain yang bukan anggota keluarganya.Disinilah seseorang belajar mengenai berbagai keterampilan sosial, seperti kerjasama,mengelola konflik, jiwa sosial, kerelaan untuk berkorban, solidaritas, kemampuan untukmengalah dan keadilan.Di kalangan remaja kelompok sepermainan dapat berkembangmenjadi kelompok persahabatan dengan frekuensi dan intensitas interaksi yang lebihmantap. Bagi seorang remaja, kelompok persahabatan dapat berfungsi sebagai penyaluran berbagai perasaan dan aspirasi, bakat, minat serta perhatian yang tidak mungkin disalurkan di lingkungan keluarga atau yang lain.



Peran positif kelompok sepermainan/persahabatan:
•Memberikan rasa aman dan rasa yang dianggap penting dalam kelompok yang
berguna bagi pengembangan jiwa
•Menumbuhkan dengan baik kemandirian dan kedewasaan
•Tempat yang baik untuk mencurahkan berbagai perasaaan: kecewa, takut, kawatir,suka ria, dan sebagainya, termasuk cinta.
•Merupakan tempat yang baik untuk mengembangkan ketrampilan sosial: kemampuanmemimpin, menyamakan persepsi, mengelola konflik, dan sebagainyaTentu saja ada peran kelompok persahabatan yang negatif, seperti perilaku-perilaku yangberkembang di lingkungan delinquen (menyimpang), misalnya gang.

3. Sistem/lingkungan pendidikan sebagai agen/media sosialisasi

Dilingkungan pendidikan/sekolah anak mempelajari sesuatu yang baru yang belumdipelajari dalam keluarga maupun kelompok bermain, seperti kemampuan membaca,menulis, dan berhitung.

Lingkungan sekolah terutama untuk sosialisasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologiserta nilai-nilai kebudayaan yang dipandang luhur dan akan dipertahankankelangsungannya dalam masyarakat melalui pewarisan (transformasi) budaya darigenerasi ke generasi berikutnya.

Fungsi sekolah sebagai media sosialisasi antara lain:
• mengenali dan mengembangkan karakteristik diri (bakat, minat dan kemampuan)
• melestarikan kebudayaan
• merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran ketrampilan berbicara dan
pengembangan kemampuan berfikir kritis, analistis, rasional dan objektif
• memperkaya kehidupan dengan cakrawala intelektual serta cita rasa keindahan
• mengembangkan kemampuan menyesuaikan diri dan kemandirian
• membelajarkan tentang hidup sehat, prestasi, universalisme, spesifisitas, dll.


4. Sistem/lingkungan kerja sebagai agen/media sosialisasi

Di lingkungan kerja seseorang juga belajar tentang nilai, norma dan cara hidup. Tidaklahberlebihan apabila dinyatakan bahwa cara dan prosedur kerja di lingkungan militer berbeda dengan di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi. Seorang anggota tentaraakan bersosialisasi dengan cara kerja lingkungan militer dengan garis komando yangtegas. Dosen atau guru lebih banyak bersosialisasi dengan iklim kerja yang lebihdemokratis.






5. Peran media massa

Para ilmuwan sosial telah banyak membuktikan bahwa pesan-pesan yang disampaikanmelalui media massa (televisi, radio, film, internet, surat kabar, makalah, buku, dst.)memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang, terutama anak-anak.

Beberapa hasil penelian menyatakan bahwa sebagaian besar waktu anak-anak dan remaja
dihabiskan untuk menonton televisi, bermain game online dan berkomunikasi melaluiinternet, seperti yahoo messenger, google talk, friendster, facebook, dll.

Diakui oleh banyak pihak bahwa media massa telah berperan dalam proses homogenisasi,
bahwa akhirnya masyarakat dari berbagai belahan dunia memiliki struktur dankecenderungan cara hidup yang sama.


H. Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Kepribadian atau personalitas dapat didefinisikan sebagai ciri watak seorang individu yangkonsisten memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas. Kepribadianmerupakan organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis, yang unsur-unsurnya adalah: pengetahuan, perasaan, dan naluri.


1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan unsur yang mengisi akal-pikiran seseorang yang sadar, merupakanhasil dari pengalaman inderanya atau reseptor organismanya.Dengan pengetahuan dankemampuan akalnya manusia menjadi mampu membentuk konsep-konsep, persepsi, ideaatau gagasan-gagasan.


2. Perasaan
Kecuali pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan,yaitu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainyasebagai positif atau negatif.Perasaan bersifat subjektif dalam diri manusia dan mampumenimbulkan kehendak-kehendak.


3. Dorongan naluri (drive)
Naluri merupakan perasaan dalam diri individu yang bukan ditimbulkan oleh pengaruhpengetahuannya, melainkan sudah terkandung dalam organisma atau gennya





I. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Pembentukan Kepribadian

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian, antara lain:

1. Warisan biologis (misalnya bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat,ectomorph/kurus tinggi, dan mesomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahuibahwa mesomorph lebih berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilakumenyimpang dan melakukan kejahatan)


2. Lingkungan fisik/alam (tempat kediaman seseorang, apakah seseorang berdiam dipegunungan, dataran rendah, pesisir/pantai, dst. akan mempengaruhi kepribadiannya)


3. Faktor lingkungan kultural (Kebudayaan masyarakat), dapat berupa:
a. kebudayaan khusus kedaerahan atau etnis (Jawa, Sunda, Batak, Minang, dst.)
b. cara hidup yang berbeda antara desa (daerah agararis-tradisional) dengan kota(daerah industri-modern)
c. kebudayaan khusus kelas sosial (ingat: kelas sosial buka sekedar kumpulan dariorang-orang yang tingkat ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama,tetapi lebih merupakan gaya hidup)
d. kebudayaan khusus karena perbedaan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu,Budha, dan lain-lain)
e. pekerjaan atau keahlian (guru, dosen, birokrat, politisi, tentara, pedagang,wartawan, dll.)


4. Pengalaman kelompok (lingkungan sosial): dengan siapakah seseorang bergaul danberinteraksi akan mempengaruhi kepribadiannya


5. Pengalaman unik (misalnya sensasi-sensasi ketika seseorang dalam situasi jatuh cinta)













Refrensi:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar